Revolusi Papua Menurut Markus Haluk

Revolusi Papua Menurut Markus Haluk

Sejarah dunia menunjukkan revolusi sebagai titik balik perjuangan manusia. Revolusi Papua menegaskan transformasi menyeluruh yang berakar pada kearifan lokal, budaya, dan spiritualitas Melanesia.


Pendahuluan 

Secara singkat, revolusi dapat didefinisikan sebagai perubahan besar dan cepat dalam sistem pemerintahan serta nilai-nilai masyarakat, yang melibatkan partisipasi aktif rakyat.


Pelajaran dari Revolusi Besar Dunia

Revolusi Prancis 1789 menggulingkan monarki absolut untuk menegakkan kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan, meski disertai kekerasan dan konflik besar. Revolusi Rusia 1917 menjatuhkan Tsar untuk membebaskan kaum proletar, tetapi perjuangan itu tetap menghadapi ketegangan antara aspirasi rakyat dan kekuasaan negara.

Intinya, revolusi membawa transformasi besar sekaligus tantangan sosial yang tinggi.


Revolusi Indonesia: Kemerdekaan dan Dilema Moral

Di Indonesia, revolusi pada 1940-an menghadirkan perjuangan kemerdekaan yang kompleks, termasuk kolaborasi beberapa pemimpin dengan rezim pendudukan Jepang. Strategi ini berhasil mencapai kemerdekaan, tetapi jutaan rakyat menderita akibat kerja paksa, perbudakan seks, dan kekerasan massal.

Dalam konteks ini, Revolusi Indonesia menghadirkan dilema moral: bagaimana mengejar kebebasan tanpa menjadikan rakyat sebagai tumbal darah?


Revolusi dalam Tradisi Adat Papua

Di Papua, semangat revolusi berakar pada tradisi perlawanan masyarakat adat terhadap kolonialisme. 

Contohnya, pada awal abad ke-20, Angganeta Manufandu melalui Gerakan Koreri di Teluk Cenderawasih menolak pajak, kerja paksa, dan intervensi Belanda, sambil mempertahankan tanah adat dan kedaulatan komunitasnya. 

Aksi ini menegaskan bahwa budaya perlawanan dan solidaritas komunal telah menjadi bagian dari identitas Papua jauh sebelum pengaruh revolusi global maupun perjuangan hak sipil dan emansipasi kulit hitam di Amerika.


Fondasi Sosial-Budaya Revolusi Papua

Bagi Markus Haluk, sekretaris eksekutif United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), Revolusi Papua bukan sekadar pergantian rezim, melainkan transformasi sosial, budaya, politik, dan spiritual yang mendalam, berakar pada kearifan lokal Melanesia. 

Musyawarah adat, solidaritas komunitas, dan pengelolaan sumber daya kolektif menjadi fondasi perjuangan. Haluk menolak konsep revolusi impor yang menekankan kekerasan atau pengorbanan rakyat, karena sejarah mengajarkan bahwa revolusi semacam itu hanya melahirkan siklus penindasan baru.


Gereja sebagai Agen Pembebasan dan Kesadaran Profetik

Dalam revolusi Papua, gereja berperan aktif sebagai agen pembebasan yang menumbuhkan kesadaran profetik. Dengan menanamkan nilai keadilan, martabat, dan kerjasama, gereja mendorong masyarakat menolak dominasi yang menindas, sambil memperkuat pendidikan kritis, identitas budaya, dan pendampingan komunitas adat. 

Peran ini menjadikannya pendorong transformasi sosial-politik yang damai, selaras dengan semangat luhur perjuangan Papua.


Penutup 

Akhir kata, Revolusi Papua harus dipahami bukan sebagai tujuan, melainkan sebagai proses transformasi radikal. Berdasarkan prinsip demokrasi adat dan solidaritas Melanesia, perubahan diarahkan untuk kesejahteraan kolektif tanpa mengorbankan nyawa manusia. 

Dalam kerangka pemikiran Markus Haluk, revolusi adalah jalan lurus menuju kemerdekaan bermartabat, pengakuan terhadap nilai adat, serta penolakan terhadap kekerasan sebagai syarat pembebasan.


 Wim Anemeke 

Comments