“Damai-Ku Kutinggalkan Bagimu”
“Damai-Ku Kutinggalkan Bagimu”
Apa yang Mungkin Dikatakan Tuhan Yesus kepada Bangsa Papua di Penghujung Tahun 2025
Di penghujung tahun ini, ketika dunia terus berputar dengan hiruk-pikuk politik, ekonomi, dan teknologi, bangsa Papua tetap berdiri sebagai sebuah rakyat yang telah lama bergulat dengan sejarah panjang: sejarah penyingkiran, kolonisasi, pergolakan politik, kekerasan negara, dan pencarian martabat sebagai bangsa Melanesia yang diciptakan serupa dan segambar dengan Allah.
Dalam lanskap yang penuh luka itu, pertanyaan teologis yang muncul adalah: jika Tuhan Yesus berbicara secara langsung kepada bangsa Papua di akhir tahun 2025, apa yang mungkin Ia katakan?
Pertanyaan ini bukan untuk menebak suara ilahi, tetapi untuk menempatkan Injil dalam pergumulan konkret masyarakat Papua — sebuah teologi yang hidup di antara tangisan, tawa, dan perjuangan rakyat yang telah lama berada di bawah bayang-bayang kekuasaan.
Aku Melihat Luka-lukamu yang Disembunyikan
Dalam banyak narasi publik Indonesia, Papua sering direduksi menjadi angka: angka pembangunan, angka keamanan, angka kemiskinan, angka pelanggaran HAM. Namun Injil menunjukkan bahwa Yesus bukan Tuhan yang melihat angka; Ia melihat wajah.
Yesus mungkin berkata:
“Aku melihat luka-lukamu yang tidak dilihat oleh banyak orang. Aku mendengar ratapanmu yang tidak didengar pemerintah. Aku mengenal nama setiap korban yang dilupakan laporan resmi.”
Yesus yang dalam Injil berkali-kali berpihak kepada mereka yang dipinggirkan — , orang kusta perempuan Samaria, orang miskin, para tawanan — akan menemukan gema-Nya di tengah masyarakat Papua yang terus membawa beban sejarah sejak 1960-an.
Ia akan berkata bukan dari jarak kekuasaan, tetapi dari kedalaman empati:
“Tidak ada air mata orang Papua yang tidak sampai ke takhta-Ku.”
“Kalian Bukan Bangsa Pinggiran: Kalian Adalah Anakku yang Kukasihi”
Dalam realitas sosial-politik Indonesia, orang Papua sering diberi label: terbelakang, belum modern, masih harus “dibina”, harus “dimajukan” oleh kekuatan dari luar. Itu adalah bahasa kolonial.
Tapi Injil berbicara lain.
Yesus mungkin akan berkata:
“Kalian bukan bangsa yang harus dibentuk oleh tangan asing. Sebelum dunia memandangmu rendah, Aku telah memandangmu mulia.”
Yesus tidak mengukur martabat manusia dari standar pembangunan, infrastruktur, atau narasi modernitas.
Ia mengukurnya dari citra Allah yang tertanam dalam setiap manusia — termasuk orang Melanesia, termasuk mereka yang dianggap paling “di pinggir”.
Ia mungkin menambahkan:
“Identitas Melanesiamu bukan kekurangan; itu adalah rahmat. Itu bukan alasan untuk penindasan, tetapi alasan untuk bersyukur.”
“Aku Ada di Pihakmu Ketika Ketidakadilan Menekanmu”
Yesus dalam Kitab Suci bukan figur netral.
Ia tidak pernah berpihak pada kekuasaan yang menindas. Ia memihak janda, yatim, tawanan, orang miskin, dan korban kekerasan struktural.
Jika Ia berbicara kepada bangsa Papua hari ini, mungkin Ia akan berkata:
“Ketika kekerasan menimpa kampungmu, Aku berada bersama korban, bukan bersama pelaku. Ketika kebenaran diputarbalikkan, Aku berdiri bersama mereka yang bersaksi. Ketika tanahmu direbut, Aku berada di pihak mereka yang mempertahankan warisan leluhur.”
Ini bukan seruan kekerasan, tetapi peneguhan moral: bahwa Injil tidak memihak pada sistem yang memutilasi martabat manusia.
“Aku Mengundangmu untuk Menjaga Harapan, meski Dunia Berusaha Merampasnya”
Nabi-nabi dalam Perjanjian Lama berbicara kepada bangsa yang merasa ditinggalkan:
bangsa yang terjajah, tercabik, tercerai-berai.
Kepada bangsa Papua, Yesus mungkin akan berkata:
“Harapanmu bukan naif. Harapanmu adalah bentuk iman. Harapanmu adalah tanda bahwa Roh-Ku masih bekerja di tengahmu.”
Dalam situasi di mana pembicaraan tentang keadilan sering dianggap ancaman, harapan menjadi tindakan revolusioner.
Ia mungkin menambahkan:
“Tetaplah berharap meski laporan gelap datang setiap minggu. Harapanmu bukan pada kekuatan manusia, tetapi pada kebenaran yang tidak bisa dipadamkan.”
“Bangkitlah dan Rawatlah Roh Persatuanmu”
Salah satu tantangan besar bangsa Papua hari ini adalah perpecahan internal: politik, agama, suku, diaspora, elitisme, dan infiltrasi kekuasaan.
Yesus kemungkinan akan menyampaikan:
“Roh pemecah-belah bukan berasal dari-Ku. Bangkitlah, bersatulah sebagai satu tubuh, seperti Aku menginginkan tubuh-Ku tidak terpecah-pecah.”
Ini bukan seruan kepada nasionalisme kosong, melainkan kepada rekonsiliasi internal berdasarkan kejujuran, penghormatan terhadap adat, dan pemulihan kepercayaan antar-komunitas.
“Aku Memanggil Gereja agar Bertobat dan Berdiri Bersama Korban”
Di Papua, Gereja — Katolik dan Protestan — memiliki peran historis yang ambigu:
kadang menjadi pelindung rakyat, kadang terjebak dalam kompromi dengan kekuasaan.
Yesus mungkin berbicara keras:
“Gereja-Ku bukan alat negara. Gereja-Ku adalah rumah bagi mereka yang hancur. Bertobatlah dari diam yang merendahkan martabat korban.”
Dan juga:
“Jadilah gembala, bukan pejabat. Jadilah suara bagi yang dibungkam, bukan segel bagi kekuasaan.”
Suara Yesus, jika setia pada Injil, pasti berpihak pada korban kekerasan, bukan pada struktur yang melindungi pelaku.
“Tanahmu Adalah Anugerah. Jaga, Rawat, dan Perjuangkan Sesuai Jalan Damai.”
Papua adalah salah satu wilayah dengan kekayaan ekologis terbesar di dunia, tetapi juga salah satu yang paling tereksploitasi.
Yesus mungkin menyatakan:
“Tanah ini Aku berikan kepadamu supaya engkau hidup dan merawatnya, bukan supaya diperjualbelikan oleh mereka yang tidak menghargainya.”
Dalam teologi Kristen, memperjuangkan tanah bukan hanya tindakan politik, tetapi tindakan iman — sebab tanah adalah bagian dari identitas kolektif.
Ia mungkin menambahkan:
“Perjuangkanlah tanahmu, tetapi jangan gunakan pedang yang sama seperti para penindas. Perjuangkan dengan kebenaran, keteguhan, dan kasih yang berani.”
“Aku Menyertaimu Sampai Akhir Zaman — Bahkan Ketika Engkau Merasa Paling Sendiri”
Pada akhirnya, pesan Yesus selalu kembali pada kehadiran-Nya yang tidak meninggalkan:
“Aku menyertai kamu sampai akhir zaman. Termasuk di lembah kematian. Termasuk ketika dunia membisu tentangmu.”
Bagi bangsa Papua, yang sering merasa menjadi bangsa tanpa saksi, tanpa simpati, tanpa perhatian global, kata-kata ini menjadi sumber kekuatan eksistensial.
Seruan Kristus yang Membangkitkan Papua
Jika Yesus berbicara kepada bangsa Papua di penghujung 2025, itu bukan suara yang memaksakan kepatuhan buta atau memintanya menerima ketidakadilan.
Suara-Nya akan menjadi suara penghiburan bagi yang hancur, suara amarah bagi penindas, suara pemulihan bagi yang remuk, suara harapan bagi mereka yang terus berjuang.
Sebab Tuhan yang disalib bukan Tuhan yang berdiri bersama penguasa, tetapi bersama mereka yang memikul salib sehari-hari.


Comments
Post a Comment