Manual Keselamatan Pejuang Damai Papua
Manual Keselamatan Pejuang Damai Papua
Di tengah tekanan aparat dan provokasi, para pejuang damai Papua belajar bertahan dengan tenang, melindungi diri tanpa kekerasan, dan menjaga martabat sebagai manusia merdeka.
Setiap langkah perjuangan damai rakyat Papua selalu berlangsung di ruang yang tidak pernah benar-benar netral. Tubuh dan suara para pejuang bergerak di antara barisan aparat negara, di bawah tatapan curiga ormas reaksioner, dan di tengah ketegangan yang sewaktu-waktu bisa meletup. Karena itu, perjuangan ini tidak hanya menuntut keberanian moral, tetapi juga kebijaksanaan praktis: cara untuk tetap hidup, tetap utuh, dan tetap bermartabat ketika situasi berubah menjadi tekanan.
Pengetahuan ini lahir dari pengalaman pahit dan berulang—dari mahasiswa yang digiring ke truk aparat, dari aktivis yang diinterogasi berjam-jam, dari masyarakat adat yang dibubarkan secara paksa, dari tokoh gereja yang diperingatkan agar “tidak terlalu vokal.” Mereka yang bertahan memahami satu hal: jalan damai hanya bisa ditempuh oleh mereka yang belajar menjaga diri.
Menjaga Ketenangan di Tengah Aksi Damai
Dalam demonstrasi damai, yang paling pertama dijaga bukanlah spanduk, yel-yel, atau pengeras suara, melainkan ketenangan batin.
Para pejuang berpengalaman tahu bahwa aparat membaca suasana bukan hanya dari kata-kata, tetapi dari bahasa tubuh dan energi massa. Ketika kerumunan gelisah, aparat ikut gelisah. Ketika massa tenang dan terkendali, jarak profesional sering kali terjaga.
Langkah paling sederhana—namun paling menentukan—adalah mengatur napas, berdiri tegak, dan menyadari bahwa kehadiran di ruang publik adalah hak, bukan pemberian. Mengingat bahwa setiap orang di lapangan, baik demonstran maupun aparat, sama-sama manusia, sering kali menjadi tameng pertama dari eskalasi. Tidak semua aparat datang dengan niat buruk; sebagian justru meredakan situasi ketika melihat demonstrasi berlangsung tertib dan tidak terprovokasi.
Provokasi sering datang dari arah lain. Ormas reaksioner kadang hadir dengan teriakan, ejekan, atau ancaman simbolik. Di sinilah disiplin damai diuji. Respons paling kuat justru adalah tidak merespons. Tidak mendekat, tidak membalas, tidak terjebak dialog emosional. Tubuh-tubuh pejuang dijaga tetap rapat, saling melindungi, menunjukkan bahwa kekuatan massa damai terletak pada pengendalian diri kolektif.
Berhadapan dengan Aparat: Tenang Bukan Tunduk
Saat aparat mendekat—memeriksa identitas, meminta klarifikasi, atau memerintahkan pembubaran—keselamatan sering ditentukan oleh cara berbicara.
Nada suara yang rendah dan stabil bukan tanda kelemahan, melainkan kendali. Ia sering memaksa situasi yang keras untuk melunak. Jawaban singkat dan jelas, tanpa debat di tengah kerumunan, menunjukkan sikap kooperatif yang sadar diri, bukan kepatuhan buta. Martabat tidak diukur dari kerasnya suara, tetapi dari kemampuan menguasai diri di bawah tekanan. Berbicara pelan bukan menyerah—ia adalah bentuk keberanian yang menolak diprovokasi.
Jika seseorang dibawa untuk interogasi, prinsip manual keselamatan menjadi semakin nyata. Interogasi jarang sekadar soal pertanyaan; ia adalah ujian psikologis. Para pejuang berpengalaman tahu bahwa tujuan utama bukan memenangkan percakapan, melainkan menjaga diri tetap konsisten. Mengulang dengan tenang bahwa kehadiran dalam aksi damai adalah hak sah sering kali cukup untuk menutup celah manipulasi.
Melindungi Diri Tanpa Kekerasan
Ketika tekanan meningkat—cemoohan, ancaman verbal, atau sikap merendahkan—perlindungan paling efektif justru datang dari perhatian pada tubuh sendiri. Mengatur napas, menurunkan pandangan sejenak untuk meredam adrenalin, lalu kembali menatap dengan tenang tanpa tantangan. Banyak aktivis menyebut ketenangan ini sebagai baju besi tak terlihat: tidak mencolok, tetapi sulit ditembus.
Dalam intimidasi fisik—dorongan, pukulan, atau kekerasan terbuka—prinsipnya tidak berubah: lindungi tubuh, jangan membalas. Bahu digulung untuk menjaga kepala, tangan tetap terlihat agar tidak dipelintir sebagai ancaman, tatapan agresif dihindari agar eskalasi terputus. Suara dijaga rendah dan terkendali, bukan untuk memohon belas kasihan, tetapi untuk mencegah situasi berubah menjadi bahaya mematikan. Yang dipertaruhkan bukan keberanian sesaat, melainkan kemampuan bertahan hari ini agar suara tetap hidup esok hari.
Menghadapi Tekanan Mental dan Kata-kata yang Melumpuhkan
Tekanan lain yang sering digunakan adalah isolasi psikologis: membuat seseorang merasa sendirian, ditinggalkan, atau tidak berarti. Kalimat-kalimat semacam ini bukan kebenaran, melainkan taktik. Para pejuang belajar mengenalinya sebagai suara tekanan, bukan suara realitas.
Jawaban yang sederhana dan berulang—“Saya tetap bersikap damai dan mengikuti prosedur”—sering kali cukup untuk menghentikan permainan psikologis. Tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Konsistensi adalah perlindungan.
Setelah tekanan berlalu, yang terpenting adalah kembali ke ruang aman. Bertemu kawan, keluarga, atau pendamping; minum air; membiarkan tubuh tenang. Menceritakan pengalaman kepada orang terpercaya bukan tanda kelemahan, melainkan cara menyusun kembali martabat yang sempat tergores.
Mengingat Kemanusiaan di Balik Seragam
Perjuangan damai menuntut kejernihan moral. Tidak semua aparat Indonesia bertindak dengan niat jahat. Banyak yang terperangkap dalam struktur perintah, budaya kekerasan, dan prasangka institusional yang tidak sepenuhnya mereka kuasai. Mengakui kenyataan ini bukan berarti menutup mata terhadap kekerasan, tetapi menjaga agar perjuangan tidak berubah menjadi kebencian membabi buta.
Perjuangan rakyat Papua selalu berangkat dari pengakuan martabat manusia. Martabat itu harus dijaga, bahkan ketika berhadapan dengan mereka yang tidak selalu menghargainya.
Bertahan adalah Bentuk Kemenangan
Manual keselamatan sipil ini bukan panduan konfrontasi. Ia bukan strategi untuk mengalahkan aparat atau memenangkan ruang secara instan. Ia adalah panduan bertahan: agar para pejuang tetap hidup, tetap waras, dan tetap berdiri sebagai manusia merdeka di tengah tekanan.
Kesaksian para pejuang Papua hidup sampai hari ini bukan karena mereka selalu menang dalam setiap peristiwa, tetapi karena mereka mampu bertahan tanpa kehilangan jati diri. Dan dalam perjuangan panjang, bertahan adalah bentuk kemenangan yang paling kuat.


Comments
Post a Comment