Martabat Papua dalam Perspektif Katolik
Martabat Papua dalam Perspektif Katolik
Perjuangan Papua menuntut keadilan, martabat, dan kebebasan dari penindasan. Iman, harapan, dan kasih menjadi landasan teologis dalam menafsirkan kehendak Tuhan.
Dalam tradisi iman Katolik, Tuhan tidak mengekang manusia pada satu bentuk pemerintahan atau satu keputusan politik tertentu, tetapi selalu menekankan prinsip-prinsip moral yang mendasar: keadilan, martabat manusia, kasih, dan pembebasan dari penindasan.
Papua, dengan sejarah panjang marginalisasi, konflik struktural, dan penindasan hak-hak rakyatnya, menghadirkan pertanyaan konkret tentang bagaimana kehendak Tuhan dapat dipahami dalam konteks politik dan perjuangan kemanusiaan.
Keadilan dan Pembebasan: Prinsip Ilahi bagi yang Tertindas
Alkitab menegaskan bahwa Tuhan menghendaki keadilan dan pembebasan bagi yang tertindas. Yesaya menulis, “Belajarlah berbuat baik, usahakan keadilan, tegakkan hak bagi yang tertindas” (Yesaya 1:17), dan Yesus sendiri menegaskan misi-Nya sebagai pemberi kabar baik kepada orang miskin, membebaskan yang tertindas, dan menegakkan keadilan (Lukas 4:18–19). Dari perspektif ini, kehendak Tuhan bukan sekadar soal merdeka atau tidak, tetapi tentang apakah rakyat Papua hidup dalam martabat, kebebasan dari penindasan, dan keadilan yang nyata.
Dokumen-dokumen Gereja Katolik menekankan hak rakyat untuk menentukan nasib mereka sendiri. Gaudium et Spes menegaskan bahwa setiap komunitas manusia memiliki hak-hak politik, sosial, dan budaya yang harus dihormati. Compendium of the Social Doctrine of the Church lebih jauh menekankan bahwa perlindungan martabat manusia dan pengakuan terhadap identitas budaya adalah panggilan moral bagi seluruh struktur sosial dan negara.
Dari perspektif ini, kemerdekaan Papua bukan tujuan final secara teologis, tetapi upaya untuk memastikan hak, martabat, dan kebebasan rakyat Papua adalah bagian dari prinsip kehendak Tuhan.
Menafsirkan Kehendak Tuhan dalam Perjuangan Papua
Mengenali kehendak Tuhan dalam konteks Papua berarti melihat setiap langkah perjuangan melalui lensa iman: apakah tindakan tersebut memajukan keadilan, dilakukan dengan kasih, dan mengutamakan damai.
Perjuangan yang benar tidak menempatkan kebencian atau balas dendam sebagai motivasi, tetapi berfokus pada martabat setiap manusia, perlindungan budaya, dan pengakuan terhadap hak rakyat untuk menentukan jalan hidup mereka sendiri.
Jika kemerdekaan politik adalah sarana paling adil dan damai untuk mencapai hal tersebut, maka hal itu selaras dengan kehendak Tuhan. Jika bukan, maka jalan lain yang tetap menegakkan keadilan, martabat, dan kasih juga berada dalam kehendak-Nya.
Keadilan dan Martabat sebagai Dasar
Dengan demikian, iman Katolik mengajarkan bahwa Tuhan menghendaki keadilan, kebebasan dari penindasan, dan pengakuan martabat manusia. Bentuk politik tertentu, termasuk kemerdekaan, hanyalah sarana yang harus diuji melalui prinsip-prinsip moral, etika, dan kasih.
Jalan Papua untuk merdeka atau memperoleh otonomi penuh tidak menentukan kehendak Tuhan secara mutlak; yang menentukan adalah apakah langkah tersebut memperjuangkan martabat, keadilan, dan kasih sesuai dengan prinsip-prinsip ilahi yang menuntun seluruh umat manusia.


Comments
Post a Comment