Inspirasi Revolusi Rakyat Iran bagi Papua

Inspirasi Revolusi Rakyat Iran bagi Papua

Perlawanan rakyat Iran menunjukkan bagaimana penderitaan sehari-hari dapat berubah menjadi kesadaran politik. Pengalaman ini memberi pelajaran penting bagi perjuangan sipil Papua yang bermartabat.


Pendahuluan 

Gelombang perlawanan sipil di Iran sejak akhir 2025 menunjukkan bahwa rezim yang kuat secara militer menjadi rapuh ketika berhadapan dengan keberanian rakyat, dan karena tuntutannya telah mengarah pada perubahan sistem kekuasaan, gerakan ini dapat dikategorikan sebagai sebuah revolusi.

Krisis ekonomi, inflasi tinggi, serta kebijakan represif negara mendorong berbagai kelompok sosial untuk bergerak bersama. Perlawanan ini tidak hanya datang dari mahasiswa atau buruh, tetapi juga dari pedagang dan kelas menengah kota.

Bagi rakyat Papua, pengalaman Iran menunjukkan ketidakadilan serupa—ketimpangan yang besar dan ruang sipil yang dibatasi—menjadi pelajaran perjuangan lintas negara.


Perlawanan Berangkat dari Masalah Nyata

Perlawanan sipil di Iran tumbuh dari persoalan konkret: harga barang yang melonjak, upah yang tertunda, dan kehidupan yang makin sulit. Di Papua, bentuknya berbeda, tetapi esensinya sama: mahalnya kebutuhan pokok, kemiskinan di tengah kekayaan alam, serta akses terbatas terhadap pendidikan dan kesehatan. Gerakan menjadi kuat ketika lahir dari masalah nyata bersama. Saat penderitaan sehari-hari dipahami sebagai akibat kebijakan yang tidak adil, muncul kesadaran bahwa perubahan adalah kebutuhan mendesak.

Warga Iran yang berdemonstrasi menyadari bahwa rezim Mollah tidak segan-segan menindak oposisi. Pemberontakan kaum muda, yang mengguncang negara pada 2022 setelah Mahsa Amini dibunuh oleh polisi moral karena mengenakan jilbab dengan “salah”, berakhir dengan puluhan ribu orang ditangkap dan lebih dari 500 dieksekusi. Meski begitu, rakyat Iran tetap kembali berjuang.


Persatuan sebagai Kunci Kekuatan

Di Iran, keterlibatan pedagang bazar dan kelas menengah kota—kelompok yang selama ini menjadi penopang rezim—melemahkan kekuasaan. Ketika mereka ikut bergerak bersama rakyat, perlawanan menjadi kuat karena bertumpu pada kepentingan bersama, bukan kelompok tertentu.

Dalam perjuangan sipil Papua, tantangan terbesar adalah perpecahan internal. Pelajaran dari Iran menunjukkan: persatuan tidak berarti harus seragam, tetapi cukup ada kesepakatan pada tujuan dasar. Bagi Papua, tujuan itu jelas—menciptakan kehidupan bersama yang adil, di mana kepentingan Orang Asli Papua (OAP) dan non-OAP dapat bertemu.


Kemandirian dari Intervensi Asing

Respons negara-negara besar terhadap krisis di Iran menunjukkan bahwa intervensi asing sering dibungkus alasan kemanusiaan, padahal sejatinya untuk kepentingan sendiri. Pengalaman di Irak dan Afghanistan mengingatkan kita bahwa campur tangan luar justru menambah penderitaan rakyat. 

Amerika Serikat dan Israel berbicara tentang intervensi militer untuk menghentikan pembantaian di Iran. Munafik! Dengan darah puluhan ribu rakyat Palestina di tangan mereka, merekalah juga termasuk pembantai terbesar.

Bagi Papua, pelajarannya jelas: solidaritas dunia memang penting, tetapi kebebasan hanya bisa diraih oleh rakyat itu sendiri. Perjuangan yang lahir dari warga memiliki dasar moral lebih kuat dan hasil yang lebih langgeng.


Etika Perlawanan Sipil

Seiring berjalannya waktu, perlawanan sipil di Iran menunjukkan bahwa aparat keamanan tidak selalu loyal pada rezim. Aparat juga terdiri dari individu yang merasakan tekanan sosial, sehingga kesetiaan mereka bisa goyah.

Di Papua, pelajaran ini menekankan pentingnya pendekatan sipil yang menolak dehumanisasi aparat. Perlawanan yang menjaga martabat manusia membuka kemungkinan perubahan tanpa memperpanjang siklus kekerasan.


Kesadaran yang Jujur

Sejujurnya, rakyat Iran yang turun ke jalan mungkin tidak selalu memiliki gambaran jelas tentang masa depan politik. Namun, mereka tahu apa yang harus ditolak: penindasan dan ketidakadilan. Kesadaran semacam ini cukup untuk memulai perubahan.

Perjuangan sipil Papua juga tidak harus menunggu kesepakatan penuh tentang tujuan akhir. Menolak ketidakadilan hari ini sudah merupakan tindakan politik yang sah.


Penutup

Revolusi rakyat Iran memperlihatkan bahwa kesadaran politik tidak dapat dikendalikan oleh kekuasaan. Perjuangan yang berakar pada pengalaman nyata, dijalankan secara kolektif dan mandiri, memiliki kapasitas untuk bertahan. 

Belajar dari pengalaman ini, rakyat Papua harus solid dalam menegaskan tuntutan mereka akan martabat. Hanya rakyat yang bersatu dan berjuang dengan gigih yang dapat menentukan masa depannya.

Comments