Inspirasi Perlawanan Rakyat Iran bagi Papua
Inspirasi Perlawanan Rakyat Iran bagi Papua
Perlawanan rakyat Iran menunjukkan bagaimana penderitaan sehari-hari dapat berubah menjadi kesadaran politik. Pengalaman ini memberi pelajaran penting bagi perjuangan sipil Papua yang bermartabat.
Pendahuluan
Gelombang perlawanan sipil di Iran sejak akhir 2025 menunjukkan bahwa rezim yang kuat secara militer rapuh ketika berhadapan dengan keberanian rakyat.
Krisis ekonomi, inflasi tinggi, serta kebijakan represif negara mendorong berbagai kelompok sosial untuk bergerak bersama. Perlawanan ini tidak hanya datang dari mahasiswa atau buruh, tetapi juga dari pedagang dan kelas menengah kota.
Bagi rakyat Papua, pengalaman Iran menunjukkan ketidakadilan serupa—ketimpangan yang besar dan ruang sipil yang dibatasi—menjadi pelajaran perjuangan lintas negara.
Perlawanan Berangkat dari Masalah Nyata
Perlawanan sipil di Iran tumbuh dari persoalan konkret: harga barang yang melonjak, upah yang tertunda, dan kehidupan yang makin sulit. Di Papua, bentuknya berbeda tetapi esensinya sama: mahalnya kebutuhan pokok, kemiskinan di tengah kekayaan alam, serta akses terbatas terhadap pendidikan dan kesehatan.
Perlawanan sipil menjadi kuat ketika lahir dari masalah nyata bersama. Saat penderitaan sehari-hari dipahami sebagai akibat kebijakan tidak adil, muncul kesadaran bahwa perubahan adalah kebutuhan mendesak.
Persatuan sebagai Kunci Kekuatan
Di Iran, keterlibatan pedagang bazar dan kelas menengah kota—kelompok yang selama ini menjadi penopang rezim—melemahkan kekuasaan. Ketika mereka ikut bergerak bersama rakyat, perlawanan menjadi kuat karena bertumpu pada kepentingan bersama, bukan kelompok tertentu.
Dalam perjuangan sipil Papua, tantangan terbesar adalah perpecahan internal. Pelajaran dari Iran menunjukkan: persatuan tidak berarti harus seragam, tetapi cukup ada kesepakatan pada tujuan dasar. Bagi Papua, tujuan itu jelas—menciptakan kehidupan bersama yang adil, di mana kepentingan Orang Asli Papua (OAP) dan non-OAP dapat bertemu.
Kemandirian dari Intervensi Asing
Respons negara besar terhadap krisis Iran memperlihatkan bahwa intervensi asing sering dibungkus alasan kemanusiaan, tapi sejatinya untuk kepentingan sendiri. Pengalaman Irak dan Afghanistan mengingatkan bahwa campur tangan luar justru menambah penderitaan rakyat.
Bagi Papua, pelajarannya jelas: solidaritas dunia memang penting, tapi kebebasan hanya bisa diraih oleh rakyat sendiri. Perjuangan yang lahir dari warga memiliki dasar moral lebih kuat dan hasil yang lebih langgeng.
Etika Perlawanan Sipil
Seiring berjalannya waktu, perlawanan sipil di Iran menunjukkan bahwa aparat keamanan tidak selalu loyal pada rezim. Aparat juga terdiri dari individu yang merasakan tekanan sosial, sehingga kesetiaan mereka bisa goyah.
Di Papua, pelajaran ini menekankan pentingnya pendekatan sipil yang menolak dehumanisasi aparat. Perlawanan yang menjaga martabat manusia membuka kemungkinan perubahan tanpa memperpanjang siklus kekerasan.
Kesadaran yang Jujur
Sejujurnya, rakyat Iran yang turun ke jalan tidak selalu memiliki gambaran jelas tentang masa depan politik. Namun, mereka tahu apa yang harus ditolak: penindasan dan ketidakadilan. Kesadaran semacam ini cukup untuk memulai perubahan.
Perjuangan sipil Papua juga tidak harus menunggu kesepakatan penuh tentang tujuan akhir. Menolak ketidakadilan hari ini sudah merupakan tindakan politik yang sah.
Penutup
Perlawanan rakyat Iran memperlihatkan bahwa kesadaran politik tidak dapat dikendalikan oleh kekuasaan.
Perjuangan yang berakar pada pengalaman nyata, dijalankan secara kolektif dan mandiri, memiliki kapasitas untuk bertahan.
Belajar dari pengalaman ini, rakyat Papua perlu bersatu untuk menegaskan tuntutan mereka akan martabat.


Comments
Post a Comment