Papua sebagai Kejujuran Batin
Papua sebagai Kejujuran Batin
Tulisan ini tidak mengejar pengaruh atau persetujuan. Ia ditulis demi kesetiaan pada hati nurani, ketika ketidakadilan di Papua terlalu nyata untuk terus didiamkan.
Saya menulis tentang Papua bukan karena saya merasa paling tahu, bukan karena saya yakin tulisan ini akan dibaca, dan bukan pula karena saya berharap dunia berubah setelah kata terakhir dituliskan.
Saya menulis semua ini karena jika saya tidak melakukannya, ada sesuatu di dalam diri saya yang akan rusak pelan-pelan, sesuatu yang tidak terlihat tetapi menentukan siapa saya sebagai manusia: hati nurani.
Ada saat diam adalah kebijaksanaan, tetapi ada saat diam justru menjadi pengkhianatan terhadap kebenaran yang kita yakini. Bagi saya, Papua adalah saat yang menuntut keberanian itu.
Papua hadir sebagai bisikan yang tak pernah hilang. Ia muncul dalam berita yang setengah diceritakan, statistik yang dingin, dan bahasa resmi yang terdengar rapi tetapi hampa empati. Ia tersirat dalam wajah manusia yang jarang kita pandang lama—karena menatapnya terlalu lama terasa mengganggu kenyamanan kita.
Papua dipelajari, dibicarakan, diamankan, dan dibangun, namun hampir tak pernah sungguh didengarkan. Dan ketika suaranya muncul, ia sering dianggap gangguan, ancaman, atau kesalahan.
Saya tak bisa memungkiri bahwa semua ini netral. Tidak ada yang netral ketika manusia kehilangan tanahnya, ketika rasa takut menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, ketika identitas harus disembunyikan agar bisa selamat. Tidak ada yang netral ketika penderitaan berlangsung lama dan kita hidup seolah itu wajar. Di situlah hati nurani diuji,
Papua mengajarkan saya bahwa ketidakadilan yang paling berbahaya bukan hanya yang menumpahkan darah, tetapi yang membius kepekaan. Ketika kekerasan diberi nama stabilitas, ketika pembungkaman disebut demi persatuan, ketika pembangunan dijadikan bahasa penenang untuk menghilangkan ruang hidup orang lain, maka yang sebenarnya sedang dibangun adalah jarak antara manusia dan kemanusiaannya sendiri. Jalanan dan gedung-gedung baru berdiri, tetapi jika itu semua tumbuh di atas rasa takut dan penyingkiran, ada sesuatu yang busuk di fondasinya.
Saya menulis semua ini bukan untuk menyederhanakan persoalan, tetapi juga bukan untuk menyembunyikan kenyataan di balik kompleksitasnya. Ada luka sejarah yang enggan diakui, ingatan kolektif yang dipaksa diam, dan kemarahan yang timbul karena diabaikan. Menyuruh orang Papua bersabar tanpa kejujuran adalah bentuk kekerasan yang lebih halus. Kesabaran yang dipaksakan hanya menguntungkan mereka yang sudah nyaman.
Yang paling menyedihkan adalah betapa mudahnya kita belajar untuk tidak merasa. Rasisme tidak selalu berteriak “Monyet!”; ia sering berbisik dalam asumsi bahwa orang Papua harus dibimbing dan diawasi, seolah mereka belum mampu menentukan nasib sendiri. Dehumanisasi bekerja lewat bisikan semacam itu, menjadikan penderitaan orang lain terasa jauh. Padahal hati nurani yang sehat tidak diciptakan untuk hidup tanpa gangguan; ia justru tumbuh dari kegelisahan dan rasa terganggu oleh ketidakadilan.
Saya tidak menulis untuk menang dalam perdebatan. Saya pun tidak tertarik pada siapa yang paling benar secara politik. Yang saya pedulikan adalah apakah saya masih peka pada suara batin yang mengatakan bahwa ketidakadilan sedang terjadi, dan bahwa membungkam diri sendiri demi kenyamanan adalah pilihan yang terlalu mahal. Jika suatu hari saya ditanya di mana saya berdiri ketika orang lain kehilangan martabatnya, saya tidak ingin menjawab bahwa saya memilih aman.
Bagi saya, menulis tentang Papua adalah tindakan kecil untuk tetap menjadi manusia. Sebuah cara untuk menegaskan bahwa penderitaan tidak boleh menjadi kebiasaan, kemanusiaan tidak boleh dinegosiasikan, dan persatuan tanpa keadilan hanyalah kesepakatan palsu. Saya sadar tulisan ini mungkin tidak mengubah kebijakan, menghentikan kekerasan, atau membuka dialog besar. Namun ia menjaga satu hal yang tak ternilai: kejujuran terhadap diri sendiri.
Jika tulisan ini dibaca sedikit orang, itu tidak masalah. Jika ia disalahpahami, itu risiko yang harus diterima. Yang penting adalah saya tidak membiarkan kebohongan hidup nyaman di dalam diri saya. Saya menulis karena kebenaran tidak selalu menuntut keberhasilan, tetapi selalu menuntut kesetiaan. Dan dalam kesetiaan itulah, hati nurani tetap murni, meski dunia tidak berubah secepat yang kita harapkan.


Comments
Post a Comment