Doa dan Hening Massal: Perlawanan yang Tak Bisa Dipatahkan

Doa dan Hening Massal:

Perlawanan yang Tak Bisa Dipatahkan


Pendahuluan 

Banyak orang meragukan efektivitas perjuangan damai melawan kolonialisme di Tanah Papua, terutama ketika aparat bersenjata sudah menutup jalan bahkan sebelum aksi dimulai.

Namun, perlawanan tidak selalu harus terlihat atau bising. Ada bentuk yang jauh lebih sulit dihadapi tirani: hening dan doa.


Doa dan Hening Massal

Bayangkan sebuah skenario: 

Setiap hari pukul 3 sore, 1,5 juta orang asli Papua berhenti sejenak. Mereka duduk atau berdiri, menundukkan kepala, dan berdoa selama 15 menit. Tanpa spanduk, sorakan, atau pengeras suara—hanya keheningan dan doa. Apa yang terjadi?

Hakikatnya, hening dan doa memiliki efek psikologis yang kuat. Tidak ada yang bisa diserang atau dibubarkan, karena tidak ada hukum yang melarang orang bersembah atau membisu. Bahkan 80.000 aparat bersenjata tidak bisa menghentikan niat dan ketenangan rakyat yang kompak.


Kekuatan dari Doa Bersama

Perjuangan batiniah menimbulkan tekanan moral yang besar:

Keheningan massal menantang kekuasaan tanpa meniru kekerasannya, menyodorkan cermin bagi aparat yang mengaku takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan cara ini, martabat rakyat ditegaskan, menunjukkan bahwa kekuatan fisik tidak selalu menjamin legitimasi, sehingga tirani tampak rapuh dan rasa takut perlahan memudar.


Mobilisasi Tanpa Kerumunan

Mobilisasi tidak selalu berarti kerumunan di jalan. Dengan hening dan doa, setiap orang bisa menjadi bagian dari gelombang yang tak terlihat namun dahsyat. 

Aparat boleh menutup jalan atau menahan demonstran, tetapi mereka tidak bisa menghentikan panjatan senyap jutaan orang.


Menembus Batas Lawan

Aksi ini juga membuka ruang empati bagi mereka yang dianggap lawan. Tanpa konfrontasi, aparat tidak punya alasan menggunakan kekerasan. 

Bahkan pendukung status quo dapat merasakan keteguhan rakyat, yang bisa menimbulkan introspeksi. Doa dan keheningan bekerja pada ranah kejiwaan yang tak bisa dikuasai senjata atau blokade.


Doa dan Hening sebagai Strategi

Doa dan hening bukan pasif. Mereka adalah strategi perlawanan cerdas: sulit dipatahkan, tidak bisa dikriminalisasi, dan efektif membangun kesadaran kolektif. 

Jika dilakukan secara konsisten, hening dan doa bisa lebih efektif daripada demonstrasi yang mudah dibubarkan. Gerakan buruh Solidaritas (Solidarność) di Polandia pada akhir 1980-an, yang didukung oleh Gereja Katolik, menunjukkan bahwa keteguhan spiritual mampu menghadapi aparat bersenjata dan berperan penting dalam meruntuhkan rezim otoriter di negara tersebut.

Bagi Gereja Papua, partisipasi umat dalam keheningan doa menjadi penegasan wibawa rohani Gereja dalam perjuangan damai, sekaligus memberikan dampak positif jangka panjang bagi masyarakat di Tanah Papua.


Penutup

Dalam tradisi Kristiani, Efesus 6:18 menekankan ajakan Rasul Paulus: “Berdoalah dalam Roh pada segala kesempatan,” menempatkan doa sebagai bagian dari perlengkapan rohani untuk menghadapi kuasa jahat. Santo Augustinus (354–430) dalam 'De Civitate Dei' menegaskan bahwa doa adalah cara memperjuangkan kebenaran di dunia yang tidak adil.

Sesungguhnya, aksi hening dan doa bukan semata bentuk perlawanan alternatif, melainkan senjata ampuh bagi masyarakat yang lama hidup dalam tekanan. Tidak ada hukum atau aparat yang bisa menghentikannya. Saat jutaan orang melakukannya bersama, kekuatan sejati muncul dari keberanian, keteguhan, dan kesatuan hati.

Komentar