Membaca Ulang Sejarah Injil di Tanah Papua
![]() |
| Patung Ottouw dan Geissler di Pulau Mansinam (Foto: Wikipedia). |
Membaca Ulang Sejarah Injil di Tanah Papua
Refleksi Kekristenan, Kekuasaan, dan Kolonialisme
Pendahuluan
5 Februari 1855 menandai momen penting bagi Papua, ketika Ottow dan Geissler memperkenalkan Injil di Pulau Mansinam.
Dari perspektif teologi pembebasan, peristiwa ini bukan pengalaman rohani biasa. Ia terjadi dalam relasi kuasa tertentu, sehingga menimbulkan pertanyaan penting tentang bagaimana hal itu memengaruhi kehidupan dan perjalanan sejarah masyarakat Papua.
Makna Kabar Sukacita dan Keselamatan
Bagi banyak orang Papua, kedatangan Injil, yang berarti kabar sukacita, membuka akses pada pendidikan modern dan tatanan sosial baru. Namun, kehadirannya juga berlangsung dalam konteks kolonialisme Eropa, yang membawa cara pandang berbeda tentang dunia, peradaban, dan otoritas, sehingga perlahan menggeser kosmologi Melanesia.
Keselamatan dipahami terutama lewat dimensi individual dan surgawi, sementara hubungan sakral dengan tanah, leluhur, dan komunitas mulai terpinggirkan. Dalam kondisi tersebut, Injil kerap berfungsi sebagai alat pendisiplinan yang menekankan ketaatan dan penerimaan penderitaan, alih-alih menjadi kekuatan pembebasan.
Paradoks 5 Februari: Injil dan Kekuasaan
5 Februari menandai awal sebuah paradoks. Injil Kristus, yang seharusnya berpihak pada orang miskin dan lemah serta menentang tirani, justru disampaikan dengan cara lembut dan terpisah dari kenyataan penindasan sehari-hari.
Dosa sering dipahami hanya sebagai kesalahan pribadi, sementara kekerasan struktural jarang diakui sebagai dosa kolektif. Gereja pun perlahan terbiasa hidup berdamai dengan kekuasaan.
Papua Bicara: Dari 5 Februari ke 1 Desember
Ketegangan ini menjadi semakin nyata saat kita membandingkan peristiwa 5 Februari 1855 dengan 1 Desember 1961.
Jika 5 Februari menempatkan Papua sebagai objek pewartaan, 1 Desember menandai saat orang Papua mewartakan sejarah, nasib, dan identitas mereka sendiri. Hari itu menjadi pengakuan bahwa mereka berhak menentukan masa depan dan menafsirkan sejarah dengan suara mereka sendiri.
Dari Injil ke Harapan Kemerdekaan
Dalam kacamata teologi pembebasan, perbedaan antara kedua tanggal ini sangat mencolok:
- Pada 5 Februari, Injil datang ke Papua dari luar, diajarkan dan diatur oleh orang lain. Pada 1 Desember, harapan akan keselamatan dan martabat lahir dari pengalaman dan perjuangan orang Papua sendiri.
- Jika 5 Februari membawa Salib sebagai simbol keselamatan rohani, 1 Desember menghadirkan Bintang Kejora sebagai tanda kerinduan akan pembebasan nyata.
Keduanya sama-sama membawa harapan, tetapi berasal dari arah yang berlawanan: yang satu turun dari atas, yang lain bangkit dari bawah.
Hari Terang atau Pengaburan?
Di sini, yang menjadi persoalan bukan Injil itu sendiri, tetapi bagaimana ia diposisikan. Ketika Gereja merayakan 5 Februari tanpa berani meninjau sejarah secara kritis, peringatan itu bisa menjadi ritual kosong.
Doa dan liturgi dijalankan tanpa mengingat jeritan korban, dan pujian berlangsung tanpa keberpihakan. Dalam kondisi seperti ini, 5 Februari bukan lagi hari terang, melainkan hari yang justru menutupi kenyataan.
5 Februari sebagai Panggilan Pertobatan
Iman Kristiani menuntut agar 5 Februari dibaca sebagai panggilan untuk bertobat. Tobat dari Injil yang dipisahkan dari keadilan, dari Gereja yang lebih takut pada tekanan politik daripada mempertahankan integritasnya, dan dari teologi yang lebih sibuk menjaga dogma daripada membela kehidupan nyata.
Pertobatan ini mengembalikan Gereja pada misi awalnya: berdiri bersama mereka yang tertindas, terluka, dan tersisih.
Penutup
Hari ini, 5 Februari baru bermakna jika kita membacanya bersama luka Papua. Gereja perlu mengakui bahwa Injil pernah, dan kadang masih, dipakai untuk menahan perlawanan, bukan membela martabat.
Padahal, pewartaan sejati berarti berdiri bersama mereka yang menderita di tanah Papua, bukan bersembunyi di balik kata-kata saleh.



Komentar
Posting Komentar